Museum Ullen Sentalu : Ketika Putri Kerajaan Jatuh Cinta



   Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.

Perjalanan saya menuju Museum Ullen Sentalu di daerah Kaliurang, Yogyakarta sebenarnya cukup mencemaskan, karena saya tahu letak museum ini berada di sekitar kaki gunung merapi dan kondisi motor yang dipergunakan saat itu tidak dalam kondisi prima. Apa daya, rasa penasaran akan museum yang mendapatkan predikat sebagai Museum Terbaik di Indonesia, versi Tripadvisor ini sepertinya membesarkan nyali saya untuk tetap berkunjung.

Rimbun, Hijau, dan Adem!!

Kesan pertama ketika sampai disana. Tidak buang waktu, saya langsung menuju tempat pembelian tiket, IDR 40.000. Harganya naik dari terakhir saya membaca ulasan-ulasan mengenai tempat ini.


Tidak lama kemudian, tour selama kurang lebih 40 menit pun dimulai! Museum ini terbagi menjadi beberapa bagian dan ruangan, isinya beragam mulai dari kebaya permaisuri, satu set gamelan jawa, kumpulan lukisan dan foto dari Kerajaan Mataram. Terdengar sederhana dan tidak berbeda dengan musum lainnya bukan?

Awalnya hanya ada Kerajaan Mataram, sebelum akhirnya terpecah menjadi empat.

Bedanya, di museum ini para pengunjung tidak dibiarkan menjelajah sendirian namun dipandu oleh seorang pemandu museum. Sangat cocok bukan bagi pengunjung yang suka bingung atau tidak biasa membaca informasi di museum.

Dari pemandu museum tersebut, saya baru mengetahui bahwa, ternyata selain memiliki nama Jawa ada beberapa raja yang memiliki nama 'londo', ada putri raja yang sedikit tomboi dan menggebrak kebiasaan seorang putri, raja yang tidak memiliki permaisuri, ratu jawa yang fashionable, putri kerajaan yang ketika akan mengirimkan pesan cinta ke kekasihnya harus memperlihatkannya terlebih dahulu ke ayahnya, dan putri yang galau karena tidak diizinkan menikah dengan pria tercintanya. Kasihan.

Untuk putri yang terakhir tersebut, ada hal yang cukup menarik bagi saya. Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, dan perubahan zaman namun pada dasarnya manusia tidak pernah berubah. Saat putri tersebut sedang galau, banyak anggota kerajaan dari saudara sepupu hingga paman dan bibi menyemangati dengan mengirimkan surat kepadanya. Kalau zaman sekarang sih mungkin bisa langsung dengan Whatsapp atau Line ya. Isi surat-suratnya pun sebenarnya sangat menarik untuk dibaca, ada yang kurang lebih berkata "ikhlaskan", ada juga yang menulis "dekatkan dirimu kepada Sang Pencipta", dan untaian kata penyemangat lainnya.

Sangat menarik untuk dibaca dan dihayati, sayang waktu di ruangan tersebut tidak banyak, untungnya saya berhasil menulis sebuah surat yang saya suka,

Kota Kasunanan

Gusti sayang
Kupu tanpa sayap
Tak ada di dunia ini
Mawar tanpa duri
Jarang ada atau boleh dikata tak ada
Persahabatan tanpa cacat
Juga jarang terjadi
Tetapi cinta tanpa kepercayaan
Adalah suatu bualan terbesar di dunia ini

Gimana? lebih mirip sebagai puisi bukan ketimbang sebuah surat. Kisah putri tersebut ternyata tidak berakhir disitu, pemandu wisata kami melanjutkan ceritanya, dan kalian dapat langsung berkunjung kesana untuk mendengar akhir cerita dari putri tersebut.


Ditengah tour, kami diizinkan beristirahat di sebuah ruangan berkaca dimana akan disediakan wedang khusus dari Museum Ullen Sentalu yang katanya sih resep kerajaan! Sangat menyenangkan bisa beristirahat di sini karena dikelilingi oleh pepohonan hijau rindang. Oh iya! di sini juga terdapat beberapa penghargaan yang didapatkan oleh museum ini dari beberapa lembaga dan juga buku evaluasi para pemandu tour, jadi kalau kalian ingin memberi kesan, saran dan kritik kepada mereka juga dapat dituliskan pada kesempatan ini. Tenang saja, karena pemandunya juga mungkin sedang beristirahat sejenak, dia tidak akan melihat kalian.


Sampai pada bagian akhir tour, sebuah area terbuka dimana para peserta diperbolehkan untuk foto di area ini. Terdapat relief seperti yang ada di Candi Borobudur. Relief ini sengaja dipasang miring sebagai bentuk keprihatinan terhadap anak-anak muda yang mulai melupakan kebudayaannya. Sejujurnya sampai sekarang pun saya masih mencari benang merah antara relief ini dan maknanya. Mungkin ada dari kalian yang bisa membantu?


Akhir tour pada Museum Ullen Sentalu. Bagi kalian yang tidak puas karena tidak dapat berfoto di dalam, bagian akhir museum ini juga sebenarnya indah dan cocok untuk berfoto (kalau tidak ramai), atau mungkin kalian dapat mengunjungi toko souvenir dan Restoran Beukonheuf yang berada di bagian atas. Saya sendiri kemarin langsung kembali menuju kota karena langit mulai mendung, dan khawatir akan hujan deras.


Untuk saya, museum ini merupakan museum yang sangat mengedukasi dan terus terang sedikit suka dengan peraturan no picture, no record selama tour, mungkin supaya peserta dapat lebih fokus mendengarkan cerita pemandu tour karena memang terdapat banyak cerita-cerita menarik yang bisa didapatkan dari mereka. Cocok juga bagi kalian yang lelah akan kebisingan kota dan ingin kabur selama 40 menit untuk menenangkan diri. Sayangnya, museum ini masih belum aksesibel bagi pengguna kursi roda maupun tongkat kruk karena medannya yang melewati tangga dan licin ketika hujan.

Untuk transportasi, lebih baik jika menggunakan kendaraan pribadi karena fasilitas umum yang tidak memadai. Untuk yang datang secara rombongan, juga tersedia ruang parkir yang cukup lapang untuk bus kecil maupun Elf.

No comments

Powered by Blogger.