Deaf Art Community (DAC) Yogyakarta x Tutti Arts Australia : BEASTLY! Ketika Kesulitan Bukan Penghalang untuk Berkarya




The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched - they must be felt with the heart - Helen Keller

Kembali ke masa dimana saya masih menggunakan seragam putih-merah di ruangan perpustakaan sekolah. Salah satu buku yang sering saya baca adalah buku seri tokoh dunia dalam bentuk komik, dan menemukan sosok Helen Keller bisa dikatakan sebagai hal yang tidak terlupakan. Bagaimana bisa seorang buta, tuli, dan bisu menjadi penulis dan aktivis. Padahal kalau diingat-ingat nih, ketika mata bengkak saat terkena virus dan pandangan menjadi sangat kabur saja rasanya sudah sangat sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, ketika pada tanggal 2-4 Februari 2018 kemarin saat DAC (Deaf Art Community) Yogyakarta mengadakan sebuah pameran seni, saya sangat tertarik untuk mengunjunginya.



DAC ini merupakan sebuah komunitas di Yogyakarta, tidak hanya bagi orang-orang tuli namun juga orang-orang tidak tuli. Selain sebagai wadah untuk saling berkenalan, mencari teman baru, dan belajar bahasa isyarat, para anggota DAC ini ternyata cukup sering pentas seni pertunjukan. Pada event kali itu, pertunjukan yang disajikan oleh mereka bertemakan "BEASTLY!"

Pertunjukan tersebut merupakan hasil kolaborasi DAC dengan Tutti Arts Australia yang bertujuan untuk mempromosikan karya-karya seniman difabel ke ajang internasional. BEASTLY! sendiri menceritakan tentang dunia hewan dan spesies langka yang dijembatani oleh mitos-mitos tentang hewan itu sendiri. Cukup rumit bukan? mudahnya, BEASTLY! mengingatkan kita untuk tidak terlalu sombong hidup menjadi manusia.



Dalam satu hari terdapat 3 pertunjukan yang dapat kalian nikmati, sayangnya masing-masing pengunjung dibatasi untuk melihat 1 pertunjukan perharinya dikarenakan banyaknya jumlah pengunjung yang datang. Semakin malam bukannya semakin sepi malah semakin ramai. Masing-masing pertunjukan tersebut antara lain,

BEAST
Jalur cerita mengenai sesosok makhluk di dalam gua yang kebingungan harus melakukan apa ketika manusia memasuki gua tersebut. Jalur cerita ini hanya memperbolehkan 1 orang masuk setiap sesinya, dan merupakan jalur dengan antrian terpanjang.

BOWERBIRD
Jalur cerita mengenai Burung Bower yang berusaha membangun sarang cantik untuk calon pasangannya karena jumlah burung betina yang semakin berkurang. Untuk kalian yang berpasangan, bisa masuk ke pertunjukan ini berdua.

COLLECTOR
Menceritakan mengenai Sang Kolektor yang mengkoleksi spesies-spesies yang ada sebelum akhirnya mereka menghilang. Pertunjukan ini dapat dinikmati hingga 3 orang.



Setelah menentukan ingin melihat pertunjukan yang mana, kita bisa langsung mendaftarkan nama ke panitia di depan dan menunggu untuk dipanggilkan namanya. Selama menunggu kalian bisa berkeliling melihat lukisan-lukisan karya seniman street art, Andres Busrianto yang berada di sekeliling area pertunjukan, menikmati hidangan ala angkringan, atau membeli merchandise.



Hal yang cukup menarik bagi saya adalah, seperti setelah kita mendaftarkan nama panitia akan berusaha mengingat para pengunjung, karena tidak seperti kebanyakan pertunjukan, pemanggilan nama maupun nomor tidak menggunakan mic. Jika begitu, sangat salut untuk kerja kerasnya, terutama bagi pengunjung baru seperti saya yang bukan berasal dari Yogyakarta.


 gua tempat Beast bersemayam

Saya sendiri memilih pertunjukan COLLECTOR karena adik tidak mau masuk gua Beast sendirian hahaha, dan sebenarnya memang harus cepat pulang karena masih ada yang harus dikerjakan keesokan harinya.

Tidak lama berkeliling, kami pun diperbolehkan masuk ke ruangan dimana Sang Kolektor berada. Bersama dengan satu orang lainnya, kami dipersilahkan duduk di kursi dengan ukuran pas untuk 3 orang.

Lampu remang, musik dinyalakan, Sang Kolektor berbalik dan duduk di depan kami. Memandangi kami satu persatu dengan mimik muka menakutkan dan sedikit mencemooh. DAMN! Kenapa saya harus duduk di tengah, tepat di depan Sang Kolektor sih?!! Jaraknya lumayan dekat, rasanya seperti sedang bimbingan skripsi tapi dengan suasana lagi OSPEK gitu. Selama beberapa menit kedepan saya hanya bisa memandang bahu Sang Kolektor. GOOSEBUMPS!

Satu persatu Sang Kolektor menunjukan koleksinya, ada kadal ada serangga, dll. Tidak lama, dia mengeluarkan tabung kaca ukuran lebih besar, membaliknya dan terdapat tulisan...

KAMU

Wuanjir! maksudnya apa itu. Di pikiran saya terbayang kami akan dikuliti satu-satu dan tidak dapat keluar dari ruangan. Namun ternyata, pertunjukan berakhir, kami diperbolehkan untuk keluar dan sedikit mendapatkan souvenir yang berisi,


souvenir dari Sang Kolektor, bisa jadi bahan refleksi

Jujur saja, ketika datang ke pertunjukan ini saya sama sekali tidak menyangka bahwa akan disuguhkan pertunjukan bergaya pantomin seperti ini dan untuk saya pertunjukan ini adalah yang pertama kali dan sangat berkesan. THRILL nya sangat terasa, apa karena saya duduk tepat di depan Sang Kolektor ya?

  

Pada saat itu, saking penasarannya dengan 2 pertunjukan lainnya saya berencana untuk datang kembali di hari berikutnya. Namun akhirnya, tidak bisa datang karena pekerjaan yang belum selesai. Masih penasaran dengan jalur cerita BEAST. Melihat komentar yang lucu-lucu, segala macam dikasih souvenir batu tuh rasanya...ingin kembali.

Overall, sungguh acara yang sangat menghibur dan memberikan pengalaman baru bagi saya. Semoga kedepannya jika ada acara lainnya dari DAC saya dapat kembali berkunjung. Syukur-syukur bisa berkenalan juga dan mempelajari kembali bahasa isyarat saya yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak terpakai. Sukses selalu DAC Yogyakarta dan Tutti Arts Australia!! Thank you for an amazing performance. 


No comments

Powered by Blogger.