Belajar Move-On dari Masa Lalu





Tahun lalu merupakan tahun yang cukup aneh untuk saya. Lulus dari perguruan negeri ternama dan mendapat pekerjaan di kantor milik asing dengan bidang yang saya suka dalam waktu relatif cukup cepat, tidak menyurutkan pertanyaan yang selalu berdengung di dalam kepala

"Lalu apa?"

Pertanyaan itu seperti matahari pagi dan kecupan selamat tidur.

Hari terus berjalan dan deru kendaraan tetap meraung, pada suatu titik saya lelah dengan pertanyaan itu, lelah dengan kehidupan. Gedung-gedung pencakar langit seperti telah memakan jiwa, dentingan ramai notifikasi aplikasi chatting dan kompetisi tanpa tujuan dalam dunia maya tidak menutup ruang kosong di hati. 

Rasanya berat untuk melangkah pergi setiap hari. Memilih baju untuk ke kantor, menyiapkan makan siang dan kegiatan melatih tubuh pun terasa semakin berat. 


"THE LIFE-CHANGING MAGIC OF TIDYING UP"

KonMari oleh Marie Kondo. Seni beberes dan metode merapikan ala Jepang yang menurut Dee Lestari dapat mengubah hidup pembacanya. Tidak lama dari selesai membaca karya tersebut, saya pun mengosongkan 1 hari untuk melakukan apa yang tertulis dalam #1 New York Times best seller book tersebut. 

Metode KonMari kurang lebih membantu pembaca untuk membuang dan merapikan ruangan secara menyeluruh dalam satu waktu. Dengan membereskan ruangan, diharapkan pembaca dapat membereskan urusan dan masa lalu mereka karena pada akhirnya hanya ada benda-benda yang benar-benar mereka sukai disekellingnya.

Singkat kata, melalui KonMari kita diajarkan untuk meminimalisir kebutuhan dengan 'mendonasikan' dan kedepannya bisa menggunakan barang sesuai fungsi dan kesukaan, bukan mengikuti tren yang ada. Berikut beberapa barang yang akhirnya didonasikan untuk orang lain.


 tas favorit sejak SD

 Komik, novel dan berbagai buku lainnya 

 kumpulan tas

koleksi binder 

baju, dress, dan celana

 koleksi komik

salah satu koleksi favorit yang dulu sulit didapatkan karena terbatasnya internet dan sistem pembayaran

"Lalu apa?"

Hampir 7 bulan setelah saya membereskan barang-barang tersebut, apakah ada perubahan? Hingga kini saya pun masih belum dapat menjawab pertanyaan "Lalu apa?" dan mengetahui dengan pasti apa yang saya inginkan. Ruang kosong itu masih ada, namun saya tidak lagi melihat barang sebagai alat kompetisi, melainkan fungsi. Kualitas dan asal barang menjadi catatan utama saat pembelian. 

Pelan-pelan saya merasa seperti melepas ego yang didapatkan dari kebanggaan ketika dapat menghasilkan penghidupan bagi diri sendiri. Dengan ini saya belajar move-on dari masa lalu dan mencoba berfikir kedepan.

No comments

Powered by Blogger.