Dari Freshgraduate untuk Super Freshgraduate



2016 itu tahun yang lucu.
Tahun penuh kesengsaraan dan kebutaan akan masa depan tapi juga tahun yang mengajarkan banyak hal bagi gue yang telah berhenti belajar selama bertahun-tahun lamanya dan nyaris hidup dalam kebosanan abadi. Oleh sebab itu, 2016 telah gue nobatkan sebagai tahun puber ke-2 gue.

1. What's Next?

Setelah wisuda, pertanyaan yang terus menghantui bagi kebanyakan wisudawan mungkin adalah "What's next?". Berbagai pilihan tersedia, ada kerja kantoran / lanjut S2 / nikah / wirausaha / keliling dunia atau pilihan-pilihan kreatif lainnya. Pada dasarnya wisudawan tersebut sudah dianggap dewasa dan dapat memilih jalan hidupnya masing-masing.

Tapi hidup tidak mudah, karena pada saat yang sama, mereka juga dituntut untuk dapat menghidupi dirinya (dan mungkin keluarganya) masing-masing. Disinilah mulai terjadi pertentangan batin, bosan hidup atau bahkan benci dengan keluarga maupun diri sendiri karena merasa apa yang dituntut dan apa yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi, mungkin kalian akan mencicipinya juga.

Jadi kalau pada masa ini kalian sering mengeluh, marah, posting aneh di media sosial karena bingung tidak ada kegiatan di rumah atau mulai merasa mellow, berusaha mencari teman berbagi keluh kesah ke orang-orang yang kalian jumpai...Tenanglah, kamu tidak sendiri.

Sebagian orang memang mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan relatif cepat, namun banyak juga yang harus melewati penolakan berkali-kali untuk mencapai tahap tersebut. Percayalah, tidak jarang orang yang mendapatkan sesuatu lebih cepat dari kalian, dilain sisi mereka kagum dan iri dengan kegigihan kalian karena belum tentu mereka dapat melakukan hal yang sama.

Grass always greener on the other side~


2.  Terus gimana?

Mendapatkan hal yang diinginkan juga ternyata tidak menjamin kenyamanan kalian. 1-2 bulan pertama, nggak jarang gue telepon beberapa teman karena disamping becandaan aneh dan omelan menyebalkan, suara familiar mereka satu-satunya yang bisa menenangkan dan bikin gue merasa nyaman di dunia yang baru tersebut.

Memang, bakal sering juga jadi bahan bercandaan. Meskipun begitu, jangan berkecil hati karena pada saatnya (secara tidak sadar) mereka juga akan melakukan hal yang sama. Mungkin caranya berbeda, tidak melalui telepon tapi banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendengarkan suara familiar kalian.


3.  Dunia Hitam Putih Manusia Dewasa

Dari dulu gue suka bertanya-tanya kenapa kehidupan manusia-manusia dewasa yang gue lihat tampak membosankan. Setelah merasakan sendiri, gue mengambil kesimpulan bahwa kehidupan membosankan itu....pilihan dan cukup berbahaya kalau keterusan.

Awalnya mungkin keadaan yang memaksa, tapi kalau kalian terlalu mengikuti arus bisa-bisa perasaan 'kehilangan sesuatu' akan mulai menghantui dan dapat berujung pada stress yang menumpuk bahkan depresi.

Jadi pada masa-masa yang sulit itu, selelah apapun setidaknya coba sedikit keluar dari rutinitas kalian dan temukan kembali kegiatan yang dapat sedikit memberi warna di kehidupan hitam putih itu. Even, kalau hal sekecil menempel post-it bertuliskan "Selamat Pagi" dan "Hati-hati di jalan ya! :D " di lift bisa membuat hati bahagia, just do it!


3 poin diatas baru gue sadari setelah berbulan-bulan lamanya berada di keadaan penuh tanda tanya dan buta masa depan. Itupun setelah diberi informasi mengenai buku ajaib yang sekarang menjadi 'kitab suci' dari seorang teman.

Sekarang jika melihat kembali ke belakang, rasanya ingin bilang "Masa puber ke-2 itu memang jauh lebih melelahkan dan menyebalkan, tapi percayalah semua akan baik-baik saja selama tidak berhenti mencoba."

Kuncinya, value your family, so do your friends and be curious all the time! 

No comments

Powered by Blogger.