Wakuwaku Japan : Hujan Salju di Kayabuki no Sato, Kyoto Utara


Seminggu kemarin, kebetulan mendapatkan kesempatan untuk jaga booth JNTO (Japan National Tourism Organization). Pusing juga awalnya melayani pertanyaan tamu-tamu yang datang ke booth walaupun sebenarnya bagus juga untuk referensi masa depan. Kebanyakan dari mereka sangat super duper excited sekali untuk pergi dan pergi lagi untuk yang kesekian kalinya ke Jepang. Sampai iri gue. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, gue mempelajari sesuatu bahwa ada sebuah daerah di Tengah Jepang yang sedang terkenal di kalangan mereka yang telah berulang kali ke Jepang, bernama Shirakawa-go. ╰( ・ ᗜ ・ )╯

Saking terkenalnya, gue pun penasaran dan akhirnya mencari tahu daerah tersebut dan TERNYATA....Shirakawa-go merupakan salah satu desa tradisional Jepang. Jadi di sana, kita bisa merasakan suasana pedesaan Jepang lengkap dengan rumah tradisional yang beratapkan jerami.

Tapi kali ini, gue tidak akan membahas Shirakawa-go melainkan Kayabuki no Sato , sebuah tempat yang gue dan teman-teman Wakuwaku Japan, Kansai Region Reporter lainnya datangi ketika mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan di Jepang kemarin. ┗(^∀^)┛

salah satu rumah tradisional Jepang di Miyama

Kalau kalian first-timer ke Jepang tapi kepo berat sama suasana pedesaan tradisional Jepang, kalian bisa datang ke Kayabuki no Sato ini yang berada di daerah Miyama, sebelah utara Kota Kyoto. Jadi, gak perlu lagi keluar uang lebih untuk ke Shirakawa-go. Save your money for your next trip! ╰(✧∇✧╰)

Gue sendiri punya pengalaman menyenangkan saat berkunjung ke sini karena.....gue tidak akan menyangka akan bertemu dengan SALJU pada bulan Maret di Jepang. Secara waktu berangkat sama sekali tidak mempunyai ekspektasi ngeliat salju, sampai numpuk pula, dan sebenarnya bulan Maret itu sudah bukan waktunya salju turun. Jadi bisa dibilang, kesempatan langka gitu.

suasana di daerah Miyama ketika akan segera sampai

Malam sebelumnya, tour leader kami Mayumi-san dari HIS Jepang telah memberi informasi untuk menyiapkan baju cukup tebal karena ada kemungkinan kami akan melihat salju di Kayabuki no Sato.
"Tapi jangan berharap banyak (salju turun) ya! karena tergantung cuaca juga, bisa saja besok salju tidak turun", begitu katanya.
Ya...karena dari awal berangkat juga tidak berekspektasi akan bertemu salju, yasudahlah kalau gak ketemu juga~

Perjalanan dari hotel di Kota Kyoto sendiri memakan waktu kira-kira 1,5 jam, dan cuaca hari itu sangat cerah. Bahkan ketika sudah sampai di daerah Miyama pun cerah dan matahari masih menyinari daerah tersebut dengan asyiknya. Jadi, ya gue pikir "Cerah nih, gak akan liat salju."

masih di area parkiran Kayabuki no Sato

Ketika sampai di area parkiran Kayabuki no Sato, tiba-tiba cuaca di luar mendung dan angin bertiup cukup kencang. Hmmm.....masih tidak ekspektasi salju turun juga karena beberapa hari sebelumnya juga mendung tapi tidak turun salju.

Suasana di Kayabuki no Sato sendiri seperti layaknya pedesaan, banyak pepohonan hijau, ada juga yang kuning, sungai jernih yang mengalir, tanpa konbini, atmosfer tenang karena di kelilingi oleh deretan pegunungan. Tapi jangan dikira daerah ini semacam villa di puncak ya. Pedesaan ini juga masih ditempati oleh orang-orang lokal meskipun beberapa rumahnya disewakan bagi pengunjung yang ingin menginap di sana. Jadi, pemandangan seperti motor, mobil, atau bahkan dentingan orang memainkan piano masih juga dapat ditemukan.

Tumpukan es serutan kakigori yang jatuh di dekat rumah seseorang (。◝‿◜。)
Credit: Waku-waku Japan website

Setelah menjelaskan mengenai rumah tradisional Jepang, tour leader kami malah menunjukkan sisa tumpukan salju di pinggir sebuah rumah hahaha. Seketika itulah, muncul jiwa norak kami yang baru pertama kali liat salju. Padahal sebenarnya tumpukan salju tersebut hanya semacam tumpukan es serut kakigori banyak yang jatuh di pinggir rumah seseorang.

"Well, jadi salju = es serut kakigori ternyata bentukannya. Nothing really special" <( ̄ー ̄)>. Pikir gue yang masih tidak menyangka akan bertemu salju dalam jumlah sangat banyak.

diterjang hujan salju tapi bahagia
credit: Ignatia Sphati

Tidak lama setelah norak sama tumpukan sisa salju, tiba-tiba mulai turun putih-putih dingin lembut dimana-mana. WOWW INI SALJU YA?!! (●’o’●), dari tadi level norak sekarang jadi norak banget. Excited mendokumentasikan salju kesana kemari karena semua tiba-tiba menjadi....seperti di dunia berbeda. Iseng juga nyoba es yang jatuh dari atas. Yak! mangap aja gitu, ngadep atas. Hahaha.



penginapan tempat berteduh sementara, sudah ditutupi salju

Saking senengnya, sampai akhirnya baru sadar bahwa........gue kedinginan. Salju yang tadi turun sedikit demi-sedikit semakin lama semakin lebat dan angin bertiup semakin kencang, ditambah hilangnya sarung tangan gue tadi pagi entah nyelip di mana. Daritadi gue foto-foto tanpa sarung tangan, saking dinginnya sampai sakit. Untung tidak lama kemudian, tour leader yang sedari tadi tidak terlihat keberadaannya memanggil kami untuk masuk ke suatu rumah tradisional yang dijadikan penginapan. Hoo...ternyata daritadi Mayumi-san mencari tumpangan berteduh sementara dari dinginnya udara luar. Terima kasih Mayumi-san! (◍•ᴗ•◍)

futon di rumah tradisional Jepang

suasana di ruang tengah rumah tradisional Jepang
                                                                             credit: Ignatia Sphati

Nahh!! kalau kalian suka nonton drama jepang, khususnya yang bertemakan Jepang zaman dahulu pasti familiar dengan suasana di dalam rumah ini, dimana lantainya ditutupi dengan tatami dan terdapat ruang pemanas di tengah-tengah ruangan, yang dulu selain berfungsi untuk menghangatkan ruangan, juga berfungsi untuk menghangatkan makanan. Masuk ke dalam langsung mendekat ke penghangat ruangan dan pada gak mau pindah dari sana hehehe.

Rumah-rumah tradisional ini ternyata memang warisan dari leluhur pemiliknya loh! jadi bentuknya kurang lebih masih tidak jauh berbeda dengan aslinya. Rumah-rumah tradisional ini juga dapat disewa sebagai penginapan. Jadi kalian bisa merasakan sensasi tinggal di pedesaan Jepang dan mengeksplornya secara lebih jauh. Bisa juga loh merasakan tidur di futon. Apakah lebih nyaman ketimbang tidur di kasur? Silahkan coba sendiri hehehe.....Biayanya sekitar 5000-8500 yen/orang

Spoiler:
Dulu di mata kuliah Kesusastraan Jepang ada seorang penulis yang menyukai estetika Jepang yang tradisional. Tapi dia sadar bahwa Ia juga tidak dapat hidup tanpa "sentuhan modernisasi". Jadi dia menyembunyikan semua peralatan modern yang ada di rumahnya yang bergaya tradisional Jepang. Kemarin, waktu ke Kayabuki no Sato gue pun melihat kejadian itu. Jadi TV ditutup dengan kain bercorak ala Jepang dan saklar listrik ditaruh di tempat yang jarang terlihat. Gue duga supaya estetika tradisional Jepang tetap terjaga. Btw, ada yang tau nama penulis buku tersebut? Mishima Yukio atau Tanizaki Junnichiro?  


pemandangan sebelum pulang, Kayabuki no Sato atau Yukiguni?

Setelah kira-kira 30-45 menit berteduh di penginapan tersebut, kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan dan inilah pemandangan terakhir yang dipamerkan oleh Kayabuki no Sato. Komplek perkampungan bersejarah yang tadinya berwarna hijau kekuningan berubah menjadi putih. Kebayang deh langsung Yukiguni yang ada di novel.

Overall, Kayabuki no Sato ini cocok banget buat kalian yang baru pertama kali ke Jepang tapi penasaran banget pengen liat dan ngerasain suasana perkampungan tradisional Jepang. Jadi kalian tidak usah jauh-jauh ke Shirakawa-go, cukup ke Kyoto sebelah utara saja sudah bisa merasakan hal tersebut. Untuk yang ingin mencoba peruntungan merasakan salju di bulan Maret juga bisa kesana~

Nb: Maafkan noda-noda air di foto, first timer foto ketika salju~ 

HOW TO GET THERE:

Karena tempatnya yang cukup jauh dari kota, maka akses ke sini juga agak sedikit rumit. Kalian bisa menggunakan bus dan kereta, tapi paling mudah memang menggunakan mobil sewaan, bisa dilihat di sini untuk info kendaraan

Thanks Wakuwaku Japan, Dentsu, ANA, HIS, dan pihak-pihak lain yang menyelenggarakan event ini.

Jadi....ke Jepang enaknya kemana? Ada ide lagi?? Share yuk! (◍•ᴗ•◍)

No comments

Powered by Blogger.