Matarmaja : antara mimpi & suara gaib




Cerita ini berawal dari salah pesan tiket waktu mau pergi ke Bromo. Awalnya kita pesan tiket Pasar Senen - Surabaya, dan ternyata Bapak Dosen bilang harusnya pesan jurusan Malang.
Oke, karena ada biaya pembatalan tiket sebesar 25%, gue merasa rugi cukup besar dan akhirnya memesan tiket Matarmaja, yang notabene paling murah ke Malang.

Yang lain gimana? Naik Majapahit, sama-sama kelas Ekonomi tapi satu tingkat di atas Matarmaja lah. *asli gue medit banget (-‸ლ). Untungnya, gue ga sendiri. Ada teman, inisial YDP yang senasib-sepenanggungan. Yeay!

Naik kereta kelas Ekonomi salah satu impian lu bukan??

YES!! Bukan berarti gue gak pernah naik Ekonomi ya. Sebelumnya gue pernah naik Bogowonto, tapi itu masih sekelas Majapahit buat gue. Itung-itung kesempatan juga, akhirnya gue cobalah Matarmaja ini. One of my dreams, accomplished.

Beberapa fasilitas kereta ekonomi Matarmaja,


- Kursi hadap-hadapan dengan sandaran super tegak, bikin tulang lurus setelahnya. Mungkin
- Tatakan minum beserta 1 colokan
- AC :) no fan! di gerbong gue sih dingin

----------------------------------- ***----------------------------------- 


Awal perjalanan, dari Pasar Senen-Cirebon Prujakan berhasil dilewati dengan aman dan nyaman. Turun sebentar di St.Cirebon Prujakan untuk 'stretching'. Gue yang masih polos tidak tahu bahwa sebenarnya perjuangan akan dimulai setelah itu.

Gak berapa lama setelah berhenti di Cirebon mulai..............

1. Bermunculan binatang-binatang kecil bernama kecoak  (´°ω°`)

NO!! Sesungguhnya gue gasuka serangga, terutama Kecoak. ARGHH! mana terkadang ada yang merayap di pinggir jendela pula. Untung gue ambil tempat duduk di jalur orang lalu-lalang hehe. Aman...nyaman. TAPI, perjalanan ke Malang masih sekitar 9 jam, dan kalau ada kecoak kecil berarti ada Mama Kecoak dong?! Oke, mulai putar otak gimana caranya beradaptasi dengan makhluk kecil ini dan berusaha mencari cara untuk melawan Mama Kecoak kalau datang

Sesungguhnya perjalanan panjang bisa membuat kita jadi pemberani atau psycho (seenggaknya gue). Yah antara itulah, sisa perjalanan gue habiskan dengan melakukan pembunuhan terhadap Anak Kecoak yang berani menampakkan dirinya. Ada 15 ekor lebih yang gue bunuh sepertinya saat itu....untung sampai akhir perjalanan Mama Kecoak tidak datang dan minta pertanggungjawaban atas matinya anak-anak dia. Aman

2. Did I say..."duduk di jalur lalu-lalang orang nyaman"??

Opss...i was wrong!
Dengan bekal pengalaman naik Bogowonto dan gue konfirmasi dari Ibu tentang pedagang yang biasanya naik ke dalam kereta, yang katanya sih "Gak ada kok mbak, sekarang sudah gaboleh naik. Kelas Ekonomi juga gak boleh", gue kira Matarmaja akan damai

Namun ternyata,

Baru merem dan mulailah suara gaib itu muncul "kopi kopi kopi...teh...pop mie nya kopi kopi". Lebih nyebelinnya lagi, orang sebelah gue demen banget jajan. Setiap pedagang diberhentiin kali sama dia *lebay. Hal itu terus berulang sampai Malang, baru merem dan nyaris tidur ehh pedagang masuk dan mengeluarkan suara gaibnya itu.

PS : Hasil konfirmasi ke rombongan Kereta Majapahit, di kereta mereka, pedagang juga masuk kereta tapi hanya sampai daerah depan WC.

3. Tangisan gaib....fufufu ((ΦωΦ))

Jadi begini settingnya, coba dibayangkan

Tempat: gerbong pertama kereta Matarmaja, jurusan Pasar Senen - Malang
Waktu: dimulai sekitar pukul 23.00, ketika orang mulai lelah dan tertidur
Pelakon utama: bayi, ibu, nenek, sisanya cameo
Cerita:

Gue akhirnya berhasil tidur setelah beberapa kali gagal karena suara gaib para pedagang. Gak lama setelah itu, terdengar suara tangisan bayi! jejeritan pula!! Berisik. Gue kebangun. Kesel banget. Gue ngedumel seperti biasa "Anjrit, anak siapa dah tuh. Emaknya mana pula." (harap maklum, gue ga terlalu suka anak kecil). Lewat 5 menit....10 menit....15 menit.....jadi semakin kesel "Buset, emaknya gimana sih, anaknya nangis terus ga didiemin!"

setelah itu mulai terjadi percakapan heboh ditengah-tengah tangisan..bukan, jejeritan bayi itu,

Nenek : Ini kenapa sih?
Ibu : Gatau, tadi dibawa ke belakang tiba-tiba nangis
Nenek : Aduh dia digangguin nih pasti
Ibu : Gimana dong ini? *ibu mulai panik, berusaha diemin si bayi
Nenek : didoain aja coba
Ibu : *berdoa,bayi gak berenti nangis.
Ayah : Bawa lagi aja ke belakang
Ibu : JANGAN! Udah tau lagi digangguin. Ini tadi nangis pas dibawa ke belakang kan! *ibu mulai panik

Yang terjadi setelah itu si Ibu sesak nafas, terduduk lemas. Sang nenek megangin Ibu itu sambil komat-kamit dan si bayi masih jejeritan dengan suara hampir habis di pelukan Ayahnya, dan gue gak bisa ngomong apa-apa

Gak lama kemudian, datanglah malaikat! dalam bentuk pedagang :)
dia berkata "Pak, nanti di stasiun berikutnya ke ruang masinis ya, mau dikasih minyak. Nanti langsung ditempel aja ke jidat bayinya"

Setelah kembali dari ruang masinis di stasiun berikutnya, sang Ayah langsung melakukan apa yang disarankan pedagang tersebut dan....VOILA!!
Bayi nya langsung diam.
Literally, langsung mingkem gak sesenggukan dulu baru diam

Padahal sebelumnya udah berusaha didiemin pakai berbagai cara gak mempan. Ada kali 45 menit-1 jam bayi tersebut nangis jejeritan.
Yang dipikiran gue saat itu hanya, "itu minyak apa?"

Jadi kesan tentang Matarmaja?

Cukup sekali. Lain kali gue lebih prefer Majapahit atau ekonomi yang sejenisnya :)
Buat gue, tempat duduk super tegak dan colokan yang cuma satu gak masalah
Toh pagi hari, banyak penumpang sudah turun dan kita bisa tiduran
Buat gue, tempat dudukya juga gak terlalu keras
Tapi yang bikin ga tahan adalah pedagang yang lalu lalang di gerbong.
dan masalah kecoak juga yang jumlahnya masih terlalu banyak buat gue

Terima kasih atas kenangan dan pengalamannya Matarmaja :))
Bagaimana dengan kalian? punya pengalaman unik juga ketika naik kereta? Share yuk!



Pagi di Stasiun Malang Kota :)

10 comments:

  1. hallo ... saya pernah juga naik matarmaja dari malang menuju jakarta , karena kami tahu waktu tempuh puaaanjang banget jadi kami beli tiket 1 orang dengan 3 tiket ....pastinya yang 2 tiket pake nama orang lain hehehe jadilah kami bisa tidur nglempus sampai jkt segeeeeeer .... itulah ceritaku

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh itu....boleh juga tuh. Duduk terus pegel juga waktu itu

      Delete
  2. Ahahahahahahha aku dari kecil selalu naik at least bisnis karena ortu yg bayar pas udah kerja jadi medit naik ekonomi krn tau susah cari uang and i did use mata remaja once omggggggg tmnku sampe tdr di lorong krn ga kuat duduk lagi. Tapi pas aku udah gag ada pedagang masuk loh.

    ReplyDelete
  3. Makasih dah berbagi pengalaman. Lagi timbang-timbang mau naek kereta ini ato tdk. Dan krn ada banyak baby kecoak plus sandaran t4 duduk yg super tegas, sdh kuputuskan utk tdk memilihnya. :) :) :)

    ReplyDelete
  4. Makasih dah berbagi pengalaman. Lagi timbang-timbang mau naek kereta ini ato tdk. Dan krn ada banyak baby kecoak plus sandaran t4 duduk yg super tegas, sdh kuputuskan utk tdk memilihnya. :) :) :)

    ReplyDelete
  5. Aku gy cari tau ttg matarmaja.. Omg kecoakkk??? Tapi plg murah ya ini yaaaa..

    ReplyDelete
  6. Hullaaa.
    saya warga malang yang kerja di tangerang.
    KAlo pengalaman naik kereta dari jakarta ke malang, tentu udah banyak. Mulai matarmaja, majapahit, bima, sampai gajayana.
    dan setau saya kereta matarmaja sudah tidak ada pedagang tuh. Sudah steril. Kecuali dibeberapa stasiun. Karena di banyak stasiun orang yang bawa dagangan dilarang masuk stasiun.
    ..
    Trus tahun 2017 sudah ada yang lebih murah yaitu kereta api brantas. Tapi stasiun terakhir sampe blitar aja. hehe. Lumayang kalo mau ziarah ke makam pak karno. Sebagai orang indonesia masak gak pernah ke makam pakkarno sih. trus kalo mau lanjut ke malang tinggal pake kereta antar kota. Bisa penataran atau yang lain, dengan tarif gak sampe 10000.

    ReplyDelete
  7. thanks a lot for sharing! gue juga mau ke bromo tanggal 10 agustus ini dan terlanjur pesen kereta matarmaja yang harga tiket paling murah wkwk semoga ngga ada hal2 yang tdk menyenangkan terjadi nanti ya :'D

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.