Gunung Api Purba Nglanggeran: Jangan sombong jadi Homo Sapiens


Oke, pertama-tama mari berkenalan dulu dengan si Gunung Api Purba.
Namanya Gunung Nglanggeran, terletak di Desa Nglanggeran, Gunung Kidul.
Gunung Api Purba, dari namanya sudah ketebak dong bahwa gunung ini merupakan gunung api. Tapi dulu, sekitar 60 juta tahun yang lalu.
Tingginya sekitar 200-700mdpl. Dari beberapa info yang gue kumpulkan, gunung api ini cocok untuk pendaki pemula.(・⊝・)

-------------------------------------------***-------------------------------------------

Berbekal pengetahuan tersebut, berangkatlah gue ke sana, langsuung dari Goa Pindul.
Tiket masuk gunung ini 9000 ribu rupiah untuk pendakian malam dan 7000ribu rupiah untuk pendakian siang (Jan 2015) dengan jam operasi 24 jam.

Ceritanya kita pengen liat sunset di Embung Nglanggeran, karena waktu itu sampai sana sekitar jam 16.30. Jadi harus cepat mendakinya dan gak bisa lama-lama di atas.
Akhirnya gue tinggal tas kecil hitam gue di mobil dan naik hanya bawa kamera.
Waktu itu sih mikirnya, "males bawa tas, ribet! berat juga ada minum"

dan....dimulailah pendakian

Untuk sampai puncak kita akan melewati 5 pos. Jalur pendakianya kebanyakan berbentuk tangga-tangga yang dibentuk di tanah, ada juga yang cukup menanjak sampai harus menggunakan tali. Tapi! yang paling seru adalah melewati celah yang cukup buat 1 orang saja diantara 2 bebatuan besar. Mikir sih... "ini celah bisa gue lewatin gak ya?" *maklum badan besar

ternyata BISA!

pendakian terus berlanjut.
Awalnya, jalur pendakian terasa biasa. Walaupun terhenti beberapa kali untuk beristirahat tetap terasa menyenangkan. Namun lama-lama........

Gak ada 100 meter, pasti gue berhenti. Istirahat. Mengambil nafas.
"Something isn't right, is it?" 
Saudara gue yang polisi jauh di depan, begitu juga teman gue (NFW)yang sering naik gunung.
NFW teman yang baik, dia selalu nungguin gue didepan. Tapi waktu itu gue yakin bahwa gue sebel sama dia.

Coba bayangin

Dia nungguin gue di atas, gue berusaha naik ke tempatnya. Begitu sampai, baru mau ambil nafas dan istirahat dia bilang "Ayo, jalan lagi!"
.............
GUE KESEL. "Lu sudah istirahat sembari nungguin gue, dan lu gak ngijinin gue istirahat?!!", berkali-kali gue ngumpat begitu, dalam hati. (╯°□°)╯ ┻━┻

Tapi gue akui, kalau gak ada dia mungkin gue akan nyerah di tengah jalan, karena dia selalu ngasih sugesti baik meskipun gue tau itu bohong belaka macam:

"Ayo, 5 menit lagi nyampe!", katanya berulang kali
Hahaha....sugesti. Kita baru saja lewat pos 1, ga mungkin 5 menit lagi sampai

dia juga kadang memberikan info tentang mendaki yang benar, seperti:

" Lu naik, jangan sambil megang lutut. capek nanti!"
" Hmmm....."

Jadi, pastikan ajak teman yang akan selalu men-support kalian. Lebih bagus lagi kalau bisa saling men-support. Lebih baik dikesampingkan dulu "let me do this alone by myself" nya. Setidaknya itu yang diajarkan gunung api. Makasih NFW *bow

Pendakian terus berlanjut
Nafas gue semakin gak teratur
interval berenti gue semakin pendek

"Lu haus?", katanya
"Gak", sembari terus berjalan
"Aqua aqua...." BUSET! Ada aja yang jual minum di atas.
gue terus jalan, mendaki.


 hijau-hijau dari pos 1

"Lu mau gue mintain minum ke orang? Gapapa lagi, udah biasa di gunung. Nanti gue mintain.", NFW nanya lagi, ngeliat gue makin kesusahan.
"Gak, gausah", sejujurnya gue memang merasa jijik kalau harus berbagi minum dengan strangers.
Beberapa kali berpapasan dengan orang, beberapa kali juga kita nanya "puncak masih jauh?"
beberapa bilang "masih lama mbak", banyak juga yang berkata "gatau ya...saya gak sampai puncak"
"ARGHHHH Kapan sampai??!!", akhirnya gue teriak. Mengakui kalau gue haus dan mulai capek.

Gue gak mau berenti disini, gue mau sampai puncak. Ego gue terlalu besar untuk berhenti disini.
dan coba tebak,

apa yang jadi penyemangat gue untuk terus naik?

- serombongan kakek-nenek lagi mau turun
- ibu-ibu ala pejabat negara bersiap turun sambil menggandeng suaminya
dan yang paling menggemparkan....
- cewek yang pakai rok pendek dan flat shoes yang juga lagi turun

Asal tau aja, saat masih di bawah gue liat orang pakai celana jeans atau hotpants saja udah nyinyir,"Kayak bakal kuat aja!". Sekarang, banyak yang lebih aneh ternyata di atas. Hebatnya, yang aneh itu malah jadi penyemangat gue buat terus naik.
"Mereka aja kuat sampai sana, mosok gue enggak?!"

Gue percaya bakal ada pelajaran yang akan gue terima di setiap perjalanan gue. Salah satunya yang di atas itu. Jangan ngeremehin orang dari penampilannya. Benar-benar kejadian sama gue bukti nyatanya.

Tidak lama kemudian, saudara gue bilang "Mau beli minum gak? ada warung tuh"
"Mau!", gak pakai lama mikir lagi
Sebenarnya, dibilang warung juga bukan sih. Sebuah gubuk dimana sepasang suami istri berjualan minuman instan, teh, dan seingat gue kelapa juga ada.
"Ibu, setiap hari jualan naik turun bawa barang ini atau ditinggal aja?", ngeliat termos-termos dan dispenser kecil
"Iya dong dek, mosok ditinggal"
"Ibu gak capek?"
"Enggak, lewat jalan sini cepat kok", sambil menunjuk jalan setapak di pinggir gubuknya
"Ohhh....puncak masih jauh bu?"
"Gak kok dek, paling sekitar 15-20 menitan lagi."
WOWW, pertama kali dengar jawaban positif kayak begini.
"Beneran bu?, gak cuma buat sugesti doang kan?"
"Gak kok, beneran deket. Saya kan sudah tau gunung ini."

Tidak sampai 10 menit disitu, kita melanjutkan perjalanan.
dan......entah sugesti dari ibu tersebut atau memang gue sudah tidak kehausan lagi, atau kombinasi keduanya, gue lebih kuat di pendakian ini.
Interval berhenti gue menjadi lebih panjang, dan gak lama kemudian
"Puncak tuh puncak! udah sampai! ayo cepetan!", sahut NFW
Gue gak tau berapa lama kita naik selepas dari gubuk tersebut, tapi cepat banget. Sepertinya gak sampai 20 menit.


berharap punya drone untuk ambil gambar tengah

"Huanjir...WOW!! BAGUSS AAAAA!!!", gak berhenti bilang begitu.
Dengan segera, gue keluarkan kamera dan foto-foto lereng-lereng batu.
" Puncaknya disana tau sebenarnya.", kata saudara gue sambil nunjuk sebuah titik
"Lu kalau mau disini, disini aja. Gue kesana ya.", NFW si anak gunung tentu tidak mau kehilangan pride nya berdiri di pucak.
"Oke"


tanjakan terakhir menuju puncak

Puas mengambil foto, baru gue pindah ke puncak. Buat gue pemandangan dari puncak masih kalah bagus dari tempat gue ambil foto sebelumnya. Tapi pride nya....tentu lebih besar. (•̀ᴗ•́)و ̑̑


dari 700 mdpl

Terus, masih pengen ke sini lagi?

YES! kalau ada kesempatan dan angkutan hehehe. Ketika saat itu datang, gue akan bawa air minum. Kapok, sombong gak mau bawa air.

Rendah hatilah atau alam akan mengajarkan hal tersebut dengan caranya sendiri. 

Untuk Info tentang Gunung Api Purba Nglanggeran, bisa langsung ke websitenya:
http://gunungapipurba.com/
info nya cukup lengkap, termasuk peta dan cara kesananya

No comments

Powered by Blogger.